Surat Kecil untuk Bu Ani Yudhoyono


Subject : Assalamualaikum!!! Ahlan!

From : aduhsiapaya@smanba.com

To : aniyudhoyono@istananegara.com




Assalamualaikum! Ahlan!
Jama'aaaah...
Selamat pagi, Ibu Negara... Bagaimana kabarnya, setelah lebih dari 15 hari mengunjungi Bangil?
Nggak lupa sama Bangil kan, Bu? Itu lho... tempatnya toko Bok Ceh, toko Tarim, Pit Pot, Sudimoro, Nur Ilmu, Ayam Pak Manteb, juga Butik Faizah Bordir yang baru saja Ibu kunjungi.


Kami mau berbagi sedikit pengalaman kami nih, Bu. Karena pengalamannya bareng-bareng, jadi surat ini memakai subjek 'kami', ya...

Jadi, pagi itu seusai upacara bendera, sekolah membagi-bagikan bendera plastik pada kami. Bendera itu sebagai properti untuk menyambut kedatangan rombongan istana. Ternyata Bu Ani Yudhoyono dan Bu Boediono mau datang ke Bangil, tepatnya di Butik Faiz*h Bord*r. Denger-denger, karena yang punya butik itu salah satu desainer istana.

Berita menyebar di seluruh sudut sekolah dan bumi pun gonjang-ganjing.
Semua asyik rebutan milih bendera plastik yang tongkatnya beda warna. Kantin-kantin jadi sepi, ruang kelas juga sepi, apalagi perpustakaan! (kebetulan ruang perpustakaan belum buka, hehe). Seolah dapat bendera plastik seribuan itu lebih penting daripada makan gorengan di Bu Parto.

Kurang lebih 648 siswa digiring menuju lokasi yang jaraknya sekitar setengah kilometer. Menarik perhatian penduduk setempat karena bawa bendera plastik yang tongkatnya warna-warni. Bahkan pasukan terdepan bela-belain bawa bendera jumbo lho, Bu... Demi menyambut dan ketemu  sosok BAYYIPIIL (Bu Ani Yudhoyono Yang Istrinya Presiden Indonesia Itu Lho).

Sampai di sana, kesabaran kami diuji, Bu. Kami yang awalnya ngobrol bareng pak Satpol PP dengan seru, pose sok ngartis pas ada wartawan yang motret, sampai nyorakin pengendara becak gowes yang lewat, akhirnya malah diusir sama pak Satpol PP. Mereka bilang posisi penonton harus minimal  50 meter dari lokasi.

"Jiahhhh! Kita kesini kan buat liat wajahnya Bu Ani! Kalau disuruh geser 50 meter, kelihatan sanggulnya doang, dong!"
, kata temen saya si *cetit*. Berasa dimodusin deh sama Pak Satpol PP. Tadi aja sok baik-baikin kami, eh endingnya ternyata...

Kesabaran kami diuji lagi, Bu. Pas dalam perjalan pindah lokasi, secara otomatis posisi kami menghalangi pandangan para penoton yang ada di belakang. Ibu-ibu yang ada di posisi itu langsung marah-marah karena merasa dihalangi. Ada yang mendelik juga, kayak artis yang lagi makan mie indomie cabe hijau di iklan tivi.

"Woi mbak, saya juga pingin lihat! Mentang-mentang kamu anak SMA, jadi bisa main serodok gitu aja? Nih liat saya bawa anak saya, dari pagi nunggu pingin liat Bu Ani"
Seandainya ada produser lewat, ibuk-ibuk itu pasti udah lolos casting buat gantiin Mischa di Cinta Fitri Season 7.

Namanya juga anak SMA. Kesel banget digituin, Bu. Alhasil deh, dari jam 8 sampai pulangnya, beberapa dari kami pelotot-pelototan sama ibuk-ibuk itu. Perang laser.

Lalu ada cerita lain lagi. Beberapa menit menjelang rombongan Ibu Ani datang, ada anak SD yang lagi duduk duduk di trotoar (yang datang waktu itu pelajar dari playgroup, TK, SD, SMP, sampai SMA di Bangil)  sambil bercanda. Nggak tau ada angin yang merk-nya apa, dua dari mereka bertengkar dan saling mendorong. Mungkin mereka ingin menambah kemeriahan suasana. Mungkin... Syukurlah yang tawur anak perempuan, kecil-kecil lagi. Tinggal ditiup langsung bubar. Eh.

Dua jam dalam penantian, akhirnya rombongan Ibu Ani datang juga! /backsound bunyi petasan pas ada petir: ce-duarrrr!/

Di lapisan pertama ada (kalau nggak salah) 4 Mbak Polwan naik motor polisi. Asli deh, Mbak Polwannya kinclong dan kekar banget. Terus ada polisi laki-laki juga. Kami yang awalnya bersorak melihat kecantikan Mbak Polwan, langsung teriak 'huuu' pas yang lewat polisi yang sudah tua. Uhuk.

Lapisan kedua, ada beberapa mobil sedan hitam yang ditumpangi para Pakpol. Mungkin si Pakpol sengaja membuka kaca mobilnya, biar pesonanya bisa terbang ke anak SMA seperti kami. Dan teknik itu ternyata manjur juga. Kami semua bersorak sambil ngedumel betapa gantengnya para Pakpol itu.

Di lapisan yang kesekian puluh juta ratus ribu ratus puluh, akhirnya mobil Bu Ani lewat juga... Kalau di drama, ini adalah bagian klimaksnya, main take-nya. Teriakan pun semakin kencang.

Taaapiiii.... (sayang sekali pemirsa sekalian di rumah) Ibu ternyata duduk di  bagian kiri mobil, menyapa anak-anak playgroup. Padahal posisi kita ada di sebelah kanan jalan. Hiks... hiks... (backsound suara kertas disobek)
Memang ucapan temen saya yang tadi itu pas banget: kita hanya bisa melihat sanggul Ibu Ani... (plus jepit rambut)

Lumayan banyak yang cemberut karena kecewa (apalagi teman kami si Aprelita dan Feriyal! Wajahnya udah kayak nggak dapat uang jajan sebulan). Bahkan saat Ibu Menteri Yang Kulitnya Putih Cling (maaf lupa namanya) dadah-dadah ke kami, rasa kecewa masih tidak terobati. Padahal Ibu Menteri Yang Kulitnya Putih Cling (maaf lupa namanya) itu senyumnya nggak kalah manis sama Bu Boediono. Mohon maaf, Ibu Menteri Yang Kulitnya Putih Cling (maaf lupa namanya)...

Semua berakhir begitu saja. Terik matahari membungkus rasa penasaran karena tidak bisa melihat Bu Ani dari dekat. Apalagi ibu-ibu yang tadi masih melotot ke kami. Kami dengar dari teman-teman yang nunggu Bu Ani selesai belanja di Faiz Bordir, ibu-ibu itu nggak kunjung pulang. Berarti emang pingin banget ketemu sama Bu Ani, ya...

Fyuh... hari itu, dua jam habis untuk berpanas-panasan sambil bertengkar sama ibuk-ibuk yang ngajakin lomba laser tadi. Ada teman yang membatalkan puasa, tidur di lantai kelas, bahkan ada juga yang tidur di atas meja (hehe)

Tapi, rasa kecewa karena nggak diizinkan melihat Bu Ani dari jarak dekat pun sedikit terobati saat teman-teman yang nunggu Bu Ani sampai selesai pun berdatangan. Dengan bangga mereka bilang,
 "tadi kita habis difoto pake kameranya Bu Ani, lho..."

Terima kasih, Bu, sudah mengisi satu dari banyak lembar kisah SMA kami. Tapi ini semua ada hikmahnya, lho. Mungkin Allah menginginkan kami untuk lebih giat belajar. Mengukir prestasi setinggi-tingginya, siapa tahu suatu saat nanti bisa ketemu Bu Ani sekalian Pak SBY dalam suasana yang bahagia. Bukan dalam suasana seperti ini.

Pasti Bu Ani seneng banget kalau ketemu teman-teman kami. Mereka sangat seru dan ceria. Para guru menganggap kita hiburan tersendiri yang jadi aset mahal sekolah. Belum ngerjakan PR, duit jajan hilang, sampai dimarahin guru pun mereka tetep tertawa. Kalau teretawa bisa menghasilkan uang, pasti mereka bisa beli seluruh KFC beserta ayamnya sekarang.(ups kelihatan banget kalau yang nulis ini lagi kelaparan)

Maaf ya kalau terdapat kalimat yang tidak menyenangkan dalam surat ini. Sampai jumpa lagi, Bu!

Salam hangat sehangat es teh Bu Parto,
Murid SMA N 1 Bangil

0 komentar:

Post a Comment

Follow juga twitter saya @BrilliantGivya :)